-->

Iklan

Menu Bawah

Iklan

Halaman

Opini: Sulap di Dishub Pangkalpinang: Keajaiban Uang Menguap Tanpa Jejak!

Redaksi
Jumat, 28 Maret 2025, Maret 28, 2025 WIB Last Updated 2025-03-27T21:37:35Z


Ada yang lebih gesit dari pesulap, lebih lihai dari pencuri kelas kakap, dan lebih misterius dari Segitiga Bermuda. Tapi kali ini, bukan Harry Houdini atau jin dari lampu ajaib—melainkan oknum di Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Pangkalpinang!


Bayangkan, uang suplemen untuk pegawai honorer yang seharusnya bisa untuk beli sembako, THR dadakan, atau setidaknya nambah lauk sahur, justru raib tanpa bekas. Jumlah yang seharusnya Rp400 ribu per tiga bulan, tiba-tiba mengalami fenomena "penyusutan mistis". Kadang hanya tersisa Rp200 ribu, kadang lebih parah, seperti es krim yang meleleh di tangan anak kecil di siang bolong.


Belum cukup sampai di situ, begitu sampai ke tangan pegawai, uang ini masih harus mengalami "ritual pemotongan" oleh para komandan regu (Danru). Katanya sih, untuk acara makan bersama. Pertanyaannya, siapa yang makan? Soalnya para pegawai lebih sering kebagian remah-remahnya saja.


Tapi puncak keajaiban terjadi di akhir tahun 2024, saat uang suplemen yang dinanti-nanti malah dikabarkan diberikan kepada mantan Kepala Dinas sebagai hadiah pensiun. Wah, kalau mau kasih kado, kenapa harus pakai uang pegawai? Bukannya ada dana resmi atau cukup patungan dari pejabat yang sudah pasti lebih tebal kantongnya?


Pimpinan Dishub: Kaget atau pura-pura kaget?

Saat masalah ini mencuat, Plt Kepala Dishub terlihat kaget. Katanya, pemotongan itu tidak ada, karena uang langsung masuk ke rekening pegawai. Bahkan beliau menegaskan, untuk tahun 2024, dana suplemen hanya dianggarkan selama sembilan bulan. Jadi, tidak ada dana yang bisa "disulap" untuk hadiah pensiun siapa pun.


Tapi, fakta di lapangan justru berkata lain. Baru-baru ini, pegawai di salah satu bidang Dishub Pangkalpinang melaporkan bahwa uang suplemen yang cair di bulan Maret 2025 mengalami pemotongan Rp50 ribu per orang. Untungnya, setelah protes keras, uang itu dikembalikan pada Senin berikutnya. Ini seperti trik sulap gagal: sudah coba "disimpan" tapi ketahuan, lalu buru-buru dikembalikan!


Fenomena “Main Aman”: Uang Dipotong, Ketahuan, Balikin Lagi

Pertanyaannya, kalau memang tidak ada kebijakan pemotongan, kenapa uang itu bisa terpangkas? Siapa yang berinisiatif memotong? Dan lebih penting lagi, berapa kali kejadian seperti ini lolos tanpa terungkap?


Pengembalian uang setelah protes seolah menjadi bukti bahwa ada pihak yang mencoba bermain-main dengan dana ini, tapi panik ketika masalahnya mulai mencuat. Kalau tidak ada yang berani bersuara, mungkin uang itu sudah lenyap entah ke mana.


Fenomena ini bisa terus terjadi karena budaya diam di kalangan pegawai. Apalagi bagi pegawai honorer, yang posisinya lebih rentan dibandingkan ASN. Banyak yang memilih untuk pasrah karena takut kehilangan pekerjaan.


Tapi, kejadian terbaru ini membuktikan bahwa bersuara bisa membuat perubahan. Setelah pegawai bersatu dan menuntut hak mereka, uang yang dipotong pun akhirnya dikembalikan. Mungkin ini saat yang tepat bagi Plt Kepala Dishub untuk menunjukkan taringnya. Kalau benar tidak tahu-menahu soal pemotongan ini, sekarang adalah waktunya untuk bertindak tegas.


Dishub Butuh Reformasi, Bukan Sulap Murahan

Ke depan, perlu ada pengawasan ketat agar praktik seperti ini tidak terus terjadi. Jangan sampai Dishub jadi terkenal bukan karena kinerjanya, tapi karena trik sulap yang bisa menghilangkan uang pegawai dalam sekejap.


Pegawai Dishub hanya ingin hak mereka dibayarkan penuh, tanpa drama atau permainan kucing-kucingan. Kalau pemimpinnya benar-benar peduli, sudah saatnya transparansi dan keadilan ditegakkan. Karena yang dipertaruhkan di sini bukan cuma uang suplemen, tapi juga kepercayaan publik terhadap institusi pemerintahan.


Jadi, buat para oknum yang hobi sulap, lebih baik pensiun dini saja sebelum trik kalian benar-benar terbongkar habis-habisan!


Tentang Penulis: Muhamad Zen, Wartawan & Kritikus Sosial yang Kebanyakan Ngopi

Zen juga dikenal sebagai seorang aktivis muda dari Bangka Belitung, alumnus Fakultas Ilmu Hukum Perkeliruan Universitas Gunung Maras (UGM). Entah universitasnya yang typo atau memang hidupnya sering keliru, yang jelas dia tetap nekat menulis.


Beberapa orang bilang tulisannya tajam, sebagian lagi bilang biasa saja, sementara dia sendiri lebih memilih cuek sambil lanjut ngopi. Karena buat Zen, selama masih ada yang membaca, dia akan terus menulis—entah kritik sosial, politik, atau hal-hal yang bahkan Tuhan pun mungkin bingung kenapa dia bahas.


Makin larut malam, makin lancar dia menulis. Mungkin efek samping dari terlalu banyak kafein. Atau mungkin, karena di malam hari, dunia terlihat lebih jujur.


Catatan Redaksi :

————————————


Isi narasi opini ini di luar tanggung jawab Redaksi, apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan atau keberatan dalam penyajian artikel, opini atau pun pemberitaan tersebut diatas, Anda dapat mengirimkan artikel dan atau berita berisi sanggahan atau koreksi kepada redaksi media kami, sebagaimana diatur dalam pasal 1 ayat (11) dan ayat (12) undang-undang No 40 tahun 1999 tentang Pers.


Berita Sanggahan dan atau opini tersebut dapat dikirimkan ke redaksi media kami melalui email atau nomor whatsapp seperti yang tertera di box Redaksi.

Komentar

Tampilkan

Terkini